Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Sep 7, 2015 in Artikel | 0 comments

Menceritakan Adanya Nikmat: Antara Maslahat dan Mafsadat

Menceritakan Adanya Nikmat: Antara Maslahat dan Mafsadat

Sahabat… Seringkali terbesit dalam hati, rasanya suatu nikmat dan karunia tak kan sempurna bila tanpa mengumumkan dan menyebarkannya pada sahabat-sahabat dan orang-orang disekitar kita. Bahkan tak jarang seseorang merasa; nikmat dan karunia tersebut tak akan indah bila tanpa menebarkannya dan mempostingnya di wall-wall FB atau Twitterrnya. Hal ini tentunya merupakan tabiat dan fitrah manusia, bahkan tuntutan syar’i dan salah satu bentuk rasa syukur yang dianjurkan, selama tujuannya adalah sebatas ungkapan syukur dan agar sahabat dan orang lain bahagia dengan hadirnya karunia-Nya dalam diri kita. Allah ta’ala telah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: “Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”. (QS. Adh-Dhuha: 11).

Walaupun nikmat dalam ayat ini ditafsirkan oleh Imam Mujahid dan ahli tafsir salaf sebagai Al-Quran dan Nubuwwah/Kenabian dan ditujukan kepada Nabi kita, namun makna kandungan ayat ini umum untuk semua nikmat dan karunia yang dianugrahkan oleh Allah ta’ala, dan hukumnya ditujukan juga untuk seluruh umat manusia. (lihat: tafsir Ats-tsa’labi: 10/231 dan tafsur Ar-Razi: 31/201). Sebab itu para ulama termasuk diantaranya Abdul-Qahir Al-Jurjani menyatakan bahwa menceritakan adanya nikmat dan karunia yang kita raih adalah sikap syukur yang hakiki. (Darj Ad-Durar: 4/1736).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah memperindah makna dan tafsir ayat ini dengan penuturannya: “(Adapun mengenai nikmat Rabbmu) : makna (nikmat ini) mencakup nikmat agama dan duniawi, adapun makna (maka ceritakanlah): yaitu pujilah Allah atas adanya nikmat tersebut, dan sebutlah jenis nikmat tersebut (pada orang-orang) bila ada maslahat dibalik itu, bahkan anda bisa saja menceritakan nikmat-nikmat Allah secara mutlak (tanpa menyebutkan jenisnya) sebab menceritakan nikmat Allah adalah faktor utama untuk mensyukurinya, dan penyebab adanya kecintaan hati terhadap Dzat Pemberi nikmat tersebut sebab hati ini difitrahkan untuk selalu mencintai yang selalu berbuat baik padanya”. (Tafsir As-Sa’di: 928).

Bahkan menyebarkan nikmat yang diraih sebetulnya merupakan tuntutan cinta dan rahmat-Nya, Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam dalam salah satu hadisnya bersabda:

إذا أنعم الله تعالى على عبد نعمة أحبّ أن يُرى أثرها عليه

Artinya: “Bila Allah ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba, maka Dia suka agar adanya nikmat tersebut dilihat (oleh orang lain) atas dirinya”. (HR Ahmad: 2/403, Baihaqi: 3/271, dan Thabrani: 18/135, dengan sanad yang semua rawinya tsiqah. Lihat: Al-Majma’-Al-Haitsami: 5/132).

Akan tetapi, yang utama adalah orang-orang yang diceritakan tentang adanya nikmat ini adalah sahabat-sahabat kita yang terpercaya dan yang tidak dikhawatirkan akan muncul sifat hasad dari mereka, Imam Al-Hasan rahimahullah berkata –sebagaimana dinukil oleh Ibnul’Arabi rahimahullah-: “Bila anda mendapatkan suatu kebaikan, atau mengetahui suatu kebaikan, maka ceritakanlah tentangnya pada orang-orang terpercaya dari kalangan sahabatmu sebagai bentuk rasa syukur, bukan sebagai bentuk berbangga dan menyombongkan diri”. (Ahkaam Al-Quran: 4/410).

Namun seringkali penyebaran adanya nikmat dan karunia ini melewati batas-batas kewajaran dan maslahat. Baik berupa merasuknya sifat riya’ dan ingin dipuji karenanya, ataupun memang terlalu mubadzir menceritakan semua nikmat hingga tak satu nikmatpun kecuali diumbar dan disebar, baik dalam dunia nyata maupun dalam dunia maya, Medsos dan lainnya. Bahkan yang lebih pantas bagi seorang muslim adalah menyembunyikan sebagian nikmat yang ia raih, utamanya yang bisa mendatangkan mudharat, penyakit ‘ain, sikap riya’, sifat hasad dari orang lain, ataupun rasa sedih dari orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat tersebut. Sebab itu Syaikh As-Sa’di telah membatasinya dengan ucapannya: “adapun makna (maka ceritakanlah): yaitu pujilah Allah atas adanya nikmat tersebut, dan sebutlah jenis nikmat tersebut (pada orang-orang) bila ada maslahat dibalik itu”. Artinya bila tidak ada maslahatnya, bahkan yang ada hanyalah mudharat. maka tidak perlu diceritakan, sebab dikhawatirkan akan mewujudkan mudharat tersebut secara nyata dan hakiki. Faktor inilah yang menyebabkan Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam memerintahkan puteranya Nabi Yusuf ‘alaihissalaam agar menyembunyikan mimpi yang menunjukkan kenabian dan kemuliaan dirinya dihadapan Allah ta’ala, sebagaimana dikisahkan Allah dalam firman-Nya:

يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِين

Artinya: “Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu.  Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Yusuf: 5).

Beliau menyebutkan bahwa dampak dari menceritakan nikmat dalam mimpi tersebut adalah akan adanya makar dan tipu daya untuk memberikan mudharat pada Nabi Yusuf, yang tentunya dimotori dan dihiasi oleh Syaithan sebagai musuh yang nyata dan abadi bagi manusia. Pernyataan Nabi Ya’qub inipun kemudian terbukti, tatkala saudara-saudara Yusuf tahu akan perihal mimpi dan konsekuensi ta’birnya, Syaithanpun menghiasi hati dan akal pikiran mereka untuk melakukan suatu makar berupa pembunuhan atau pembuangan dengan tujuan agar mereka lebih dicintai oleh ayah mereka Nabi Ya’qub dan menjadi orang-orang shalih setelah makar tersebut, sungguh ini adalah Asmaa Al-Ghaayah (tujuan yang paling mulia) namun ingin diwujudkan lewat Aswa’ Al-Wasilah (sarana yang paling buruk), sebagaimana dalam ayat:

اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ

Artinya: ” Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik” (QS Yusuf: 9).

Juga apabila dengan menyembunyikan nikmat tersebut akan lebih membuatnya sukses terlaksana dan sempurna, maka ini lebih utama juga, sebagaimana dalam hadis Nabi shallallahu’alaihi wasallam:

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود.

Artinya: “Sukseskanlah penyelesaian hajat kalian dengan menyembunyikan (hajat tersebut), karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan mendapatkan sikap hasad (dari orang lain)”. (HR Thabrani: 20/94 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Tentunya, setiap orang memiliki sifat hasad ataupun kecemburuan yang berbeda-beda, ada yang kapasitasnya rendah, sehingga tidak menimbulkan adanya hasad yang negatif ataupun iri hati, dan ada yang kapasitasnya tinggi sehingga mudah sekali merasa hasad dan dengki terhadap orang lain. Syaikhul-Islam rahimahullah berkata: “…ia (sifat hasad) adalah penyakit hati yang dominan (dalam diri manusia), tidak ada yang selamat darinya kecuali sangat sedikit dari kalangan manusia, sebab itu dikatakan: “Tidaklah satu jasadpun yang selamat dari adanya sifat hasad, akan tetapi orang yang buruk menampakkannya, sedangkan orang yang baik menyembunyikannya”. (Majmu Fatawa: 10/124).

Oleh karenanya, setiap kita seharusnya berpikir dan mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya, juga mengintropeksi keikhlasan kita, sebelum menceritakan nikmat dan karunia yang telah kita raih, apalagi bila harus memposting dan menyebarkannya lewat Medsos, Wallaahu a’lam.

Ustadz Maulana La Eda, lc.

sumber

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *