Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Sep 11, 2015 in Artikel | 0 comments

Faktor Penyebab Futur (03): Hati Terpikat Pada Dunia dan Lupa Akhirat

Faktor Penyebab Futur (03): Hati Terpikat Pada Dunia dan Lupa Akhirat

Futur merupakan penyakit yang kadang menimpa para ahli ibadah, juru da’wah, dan penuntut ilmu. Jika terserang penyakit ini seseorang menjadi lemah, lamban, dan malas setelah sebelumnya semangat, rajin, dan bersungguh-sungguh. Bahkan pada tingkat yang paling parah seseorang terputus sama sekali dari suatu amal ibadah dan da’wah, wallahul musta’an.

Salah satu faktor utama penyebab futur adalah kecintaan pada dunia yang mengalahkan kecintaan pada akhirat. Dari sana hati tergantung kepadanya dan imanpun melemah sedikit demi sedikit. Kalau sudah begitu, ibadah jadi berat dan membosankan. Dia merasakan kelezatan dan ketentraman hanya pada harta duniawi. Sementara akhirat terlupakan atau nyaris terlupakan. Dan tidaklah seseorang terpikat dengan dunia, melainkan akan celaka dan binasa. “Celakalah hamba dinar, celaklah hamba dirham”, jelas Rasulullah dalam sabdanya yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Ketergantungan terhadap dunia biasanya tidak terjadi secaraa tiba-tiba, tapi sedikit demi sedikit tanpa disadari. Awalnya menyibukkan diri dengan dunia dengan maksud dan niat untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga serta tidak bergantung kepada orang lain. Atau bahkan ada yang berkilah bahwa da’wah juga butuh sokongan dana dan seterusnya. Pada asalnya hal ini merupakan sesuatu yang baik.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan pintu-pintu dunia makin terbuka lebar ditambah semakin melemahnya iman dan komitmen ia berubah menjadi tamak terhadap dunia. Atas nama proyek da’wah dan program-program keislaman, pelan-pelan tanpa disadari ia tergantung pada dunia. Dia lebih sibuk mengurus dunia. Dia mulai meninggalkan kegiatan da’wah dan keilmuan. Awalnya masih menyampaikan udzur dan alasan ketidak ikutsertaan dalam program-program da’wah. Namun karena hal itu terus berulang-ulang, setan berhasil memperdayainya untuk berhenti dari kegiatan keilmuan dan da’wah.

Di samping itu, karena sudah mulai jauh dari majelis ilmu dan kegiatan da’wah, kadang terjatuh dalam pelanggaran syariat. Awalnya masih disadari dan diakui sebagai kesalahan serta selalu menyesali pelanggaran tersebut. Namun karena selalu terjadi berulang-ulang kali, akhirnya dianggap biasa dan tidak merasa berdosa. Selain itu amal ibadah juga menurun, komitmen keislaman berkurang. Singkatnya ia terjangkiti penyakit futur.

Dunia memang manis dan menggoda sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam,Sesungguhnya dunia ini manis dan segar, dan sesungguhnya Allah menguasakan kalian di dalamnya untuk melihat bagaiamana kalian beramal. Maka, waspadalah terhada dunia, waspadalah terhadap wanita”. (terj. HR. Muslim).

Tentu saja seorang Muslim tidak mungkin mengabaikan urusan dunianya, tetapi hendaknya ia berusaha memposisikan dunia pada tempatnya. Tidak memberikan perhatian padanya melebihi perhatian pada akhirat. Karena akhirat lebih baik dari dunia, bahkan lebih baik dan lebih kekal. Perbandingan antara dunia denga akhirat seperti membandingkan antara batu bata yang terbuat dari tanah liat dengan bongkahan berlian. Tidak sebanding.

Sehingga seorang Muslim hendaknya memberikan perhatian pada dunia sesuai kadar kenikmatan yang sedikit dan sementara di dunia. Tidak mengejar dunia seolah akan kekal di dunia ini. Rasul menasehatkan, “Sesungguhnya cukuplah bagi seorang Muslim harta dunia seperti bekal seorang pendendara”. (terj. HR. Tirmidziy). Dalam hadits lain beliau mewasiatkan, “jadilah di dunia ini seakan engkau orang asing (yang akan kembali ke kampung asalnya) atau penyeberang jalan”.

Sumber: Disarikan dari Kitab Al-Futur; Al-Madzahir, Al-Asbab, Wa Al-‘Ilaj, Karya Syekh. Prof. DR. Nashir bin Sulaiman Al-Umar hafidzahullah dengan sedikit perubahan seperlunya.

(Ustadz Syamsudin Al Munawiy, Lc., MA)

sumber

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *