Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Sep 8, 2015 in Artikel | 0 comments

Faktor Penyebab Futur (01): Tidak Ikhlas & Tidak Menjaga Keikhlasan

Faktor Penyebab Futur (01): Tidak Ikhlas & Tidak Menjaga Keikhlasan

Sesungguhnya setiap amal ada saat semangatnya dan setiap saat semangat ada saat FUTUR-nya, . . .”. (Terj. HR. Ahmad dan dinilai Shahih Oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ As-Shaghir).

Hadits riwayat Imam Ahmad di atas menunjukkan bahwa setiap amalan ada saat semangat dan ada pula saat futurnya. Futur artinya lemah setelah bersemangat, terputus setelah kontinyu, dan malas setelah rajin dan bersungguh-sungguh. Ia merupakan penyakit yang kadang menimpa para ahli ibadah, juru da’wah, dan penuntut ilmu. Jika terserang penyakit ini seseorang menjadi lemah, lamban, dan malas setelah sebelumnya semangat, rajin, dan bersungguh-sungguh. Bahkan pada tingkat yang paling parah seseorang terputus sama sekali dari suatu amal ibadah dan da’wah, wallahul musta’an.

Kefuturan biasanya terjadi secara perlahan. Berawal dari gejala dan sebab yang kadang tidak disadari oleh orang yang dijangkitinya. Sehingga seseorang tidak serta merta terputus secara total dari suatu amal setelah sebelumnya ia rajin, bersemangat, dan rutin melakukan suatu amalan. Tetapi berawal dari fenomena malas, bosan dan semacamnya yang tidak disadari dan tidak diatasi.

Oleh karena itu mengenali fenomena, gejala, dan faktor penyebab futur sangat penting, agar mudah menghindarinya atau mudah mengatasinya ketika awal mula datang. Ibarat penyakit mengenali gejala dan sebabnya merupakan salah satu cara menghindari dan mengobatinya ketika telah menimpa. Tulisan ini akan menguaraikan secara berseri faktor-faktor penyebab futur yang dinukil dari kitab Al-Futur; Al-Madzahir, Al-Asbab, Wa Al-‘Ilaj, Karya Syekh. Prof. DR. Nashir bin Sulaiman Al-Umar hafidzahullah dengan sedikit perubahan seperlunya.

1. Tidak Ikhlas dan Tidak Menjaga Keikhlasan

Keikhlasan akan mendorong seorang Muslim untuk bersungguh-sungguh dalam beramal, tidak lekas bosan dan jemu. Karena dia mengharapkan pahala di sisi Allah dan menghindari siksa-Nya. Sebaliknya, jika keikhlasan melemah atau riya telah menyelusup ke dalam hati seseorang, maka hal itu akan cepat sekali memdamkan semangatnya dan melemahkan azamnya (futur). Singkatnya semakin ikhlas seseorang dan semakin serius menjaga keikhlasannya semakin kecil peluang terjangkiti penyakit futur, sebaliknya, semakin lemah keikhlasannya dan semakin kuat pengaruh riya’ dalam diri seseorang semakin rentan terjangkiti futur.

Oleh karena itu seorang Muslim hendaknya selalu berupaya menjaga keikhlasannya. Sebab ikhlas selain merupakan energi untuk sungguh-sungguh dan bersemangat serta vaksin pencegah dari kefuturan, ia juga merupakan syarat diterimanya amal. Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan benar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya Surah Al-Bayyinah ayat 5 dan Al-Kahfi ayat 110;

Padahal mereka hanya diperintah beribadah kepada Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan Agama, dan juga melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (terj. Qs. Al-Bayyinah:5).

Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya”. (terj. Qs. Al-Kahfi:110).

Dari sini, sehaarusnya seorang Muslim selalu memperhatikan keikhlasannya setiap hendak beramal. Hendaknya ikhlas menjadi dasar setiap amalnya. Dengan demikian ia dapat menjaga kelanggengan amalnya dan istiqamah dalam melakukan amal tersebut. (sym).

Sumber: Disarikan dari Kitab Al-Futur; Al-Madzahir, Al-Asbab, Wa Al-‘Ilaj, Karya Syekh. Prof. DR. Nashir bin Sulaiman Al-Umar hafidzahullah dengan sedikit perubahan seperlunya.

(Ustadz Syamsudin Al Munawiy, Lc)

sumber

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *