Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Sep 16, 2015 in Artikel | 0 comments

7 Amalan Utama di Hari-hari Mulia

7 Amalan Utama di Hari-hari Mulia

Kita sedang berada di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah; hari-hari mulia, hari paling agung. Di hari-hari ini amal shaleh lebih agung dan dicintai Allah Ta’ala. Keagungan dan kemuliaan hari-hari ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan oleh Rasul dalam hadits-haditsnya (Lih: http://wahdah.or.id/4-keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/)

Bagi seorang Muslim pecinta kebaikan dan perindu akhirat hari-hari ini merupakan kesempatan meningkatkan kwalitas dan kwantitas amal shaleh. Syekh Al-Munajjid hafidzahullah berkata tentang pemanfaatan kesempatan pada hari-hari mulia ini; “Mendapati 10 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan nikmat yang agung. Orang-orang shaleh sangat memuliakannya, dan kewajiban setiap Muslim merasakan keagungan nikmat ini serta memanfaatkan kesempatan ini dengan meningkatkan keseriusan  dan mujahadah (kesungguhan) dalam melakukan ketaatan”.

Namun sayangnya sebagian manusia masih mengabaikan dan melalaikan hari-hari ini. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari yang spesial dan istimewa. Sehingga mereka tidak menjadikannya sebagai momentum memperbanyak ibadah dan amal shaleh. (Lih: http://wahdah.or.id/hari-hari-agung-yang-terlalaikan/).

Lalu, amal shaleh apa saja yang ditekankan pada hari-hari mulia tersebut?

Pada dasarnya semua amal shaleh dianjurkan untuk diperbanyak dan ditingkatkan pada hari-hari tersebut. Berdasarkan keumuman hadits Rasul, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah”, (HR. Bukhari), dan “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini” (HR. Ahmad).

 

Namun ada beberapa amal shaleh yang secara spesifik dikaitkan dengan bulan Dzulhijjah atau sepuluh hari pertama pada bulan ini. Diantara amalan tersebut adalah shiyam (puasa), haji dan umrah, kurban, serta dzikir beupa tahlil, tahmid, dan takbir. Uraian singkat tentang amalan-amalam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • Haji dan Umrah

Bulan Dzulhijjah identik dengan ibadah haji dan umrah. Karena pelaksanaan  ibadah ini (haji) terikat dengan masalah waktu, yakni bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu haji merupakan amalan paling utama di bulan ini.

Haji merupakan rukun Islam kelima bagi yang mampu. Ia diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Keutamaanya dijelaskan dalam banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan; “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Dalam hadits lain beliau menyebut haji sebagai amalan paling afdhal (HR. Bukhari). Haji juga dapat menghilangkan kefakiran dan dosa. Rasul bersabda, “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih). Selanjutnya silahkan baca:

  • Kurban

Selain ibadah haji dan umrah, ibadah lain yang diidentikkan dengan bulan dzulhijjah adalah kurban. Karena ibadah ini hanya  diperintahkan  pada bulan dzulhijjah. Perintah berkurban dinyatakan oleh Allah dalam surah al-Kautsar ayat 2; “dan shalatlah karena Tuhanmu serta menyembelilah”. Makna fanhar (menyembelilah) dalam ayat ini adalah sembelilah hewan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang banyak kepadamu.

Hukum ibadah kurban adalah sunnah muakkadah. Namun yang mampu ditekankan untuk berkurban. Bahkan  N abi melarang orang mampu yang tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat beliau pada hari ‘ied. Beliau mengatakan;

“مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه ُ

Siapa yang memliki kemampuan tetapi tidak berkurban makan jangan mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Bagi yang akan berkurban disunatkan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambutnya sejak awal masuknya Dzulhijjah. Sebagaimana anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ummi Salamah radhiyallahu’anha: “Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” (HR Muslim: 1977).

  • Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Amalan yang juga ditekankan pada hari-hari yang mulia ini adalah memperbanyak tahlil (ucapan La Ilaha Illallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allah Akbar). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan hadits Nabi tentang hal ini.

ما من أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر , فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد .

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini. Maka pada hari hari itu perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid” (HR. Ahmad dalam Musnad dan Ath Thabrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum pernah keluar ke pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka berdua bertakbir, lantas orang-orang turut bertakbir bersama mereka. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat.

Namun sekarang amalan ini menjadi suatu sunnah mahjurah (seolah ditinggalkan). Syekh Nahir al-Umar mengatakan; “Sunnah bertakbir di sepuluh pertama Dzulhijjah seolah menjadi sunnah yang ditianggalkan, sehingga hampir tidak pernah kita mendengarnya. Sedangkan para Salaf dahulu menjadikannya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini sebagai musim memperbanyak takbir. Kita seharusnya berqudwah (berteladan) terhadap mereka dalam mengisi 10 hari yang penuh berkah ini” (Pesan Whatsapp Muassasah Muslim,13/09).

Selain dzikir dengan membaca tahlil, tahmid, dan takbir dianjurkan pula memperabnyak dzikir-dzikir yang lain. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Berdzikirlah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq [11-13 Dzulhijjah]”. (HR. Bukhari secara mu’allaq).

  • Puasa

Puasa merupakan ibadah yang agung.  Puasa wajib pada bulan Ramadhan merupakan rukun Islam ketiga. Namun selain puasa wajib masih ada puasa-puasa sunnah yang dianjurkan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. (Lih: http://wahdah.or.id/macam-macam-puasa-sunnah/). Diantara puasa sunnah yang dianjurkan dan dicontohkan Rasul adalah berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah (http://wahdah.or.id/puasa-sembilan-hari-di-awal-dzulhijjah/). Sebagaimana dituturkan oleh sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura, pada sembilan hari Dzulhijjah, dan pada tiga hari dalam sebulan: senin awal dari bulan (berjalan) dan dua kamis.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Al-Baihaqy serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Jika tak dapat puasa sembilan hari, minimal memperbanyak puasa pada hari-hari tersebut. Jika tidak dapat dan tidak sempat sama sekali, maka jangan sampai ketinggalan dari puasa hari ‘Arafah. Yakni puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika jama’ah haji dengan wuquf di ‘Arafah. Keutamaan puasa Arafah ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam; puasa Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun.  Beliau bersabda;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

Tentu saja anjuran berpuasa hanya berlaku bagi yang tidak sedang wuquf di Arafah. Sedangkan dosa-dosa yang dihapuskan oleh puasa arafah dan amal-amal yang lainnya adalah dosa-dosa kecil.

  • Menghadiri Shalat Idul Adha

Shalat ‘Ied meruapakan salah satu syi’ar Islam yang agung. Hukumnya sunnah muakkadah dan sebagian ulama berpendapat fardhu. Kesempurnaan shalat ‘ied dengan khutbah ‘ied. Oleh karena itu menghadiri shalat idul adha hendaknya disertai pula dengan mendengarkan khutbahnya.

Dianjurkan mengerjakan shalat idul adha lebih awal karena setelahnya akan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. (Penjelasan seputar tuntunan dan adab shalat idul adha akan dijelaskan pada tulisan berikutnya.

  • Bertaubat

Seorang Muslim juga hendaknya mengisi hari-hari utama di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini dengan bertaubat kepada Allah. Memang pada dasarnta tidak ada dalil khsusu yang menyuruh bertaubat pada bulan ini. Tetapi dalil umum berupa keutamaan amal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat dijadikan dasar untuk menekankan pentingnya memanfaatkan hari-hari mulia tersebut dengan taubat.

Sebab taubat juga meruapakan bagian dari amal saleh yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Terlebih lagi dosa dan maksiat merupakan sebab terhalanginya seseorang dari melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Sehingga menjadikan taubat dan istighfar sebagai bagian dari amal shaleh yang dimaksimalkan pada hari-hari ini diharapkan seseorang mendapatkan taufiq dan kemudahan dari Allah dalam mengisi hari-hari yang mulia ini dengan ibadah dan ketaatan.

  • Amal Shaleh Lainnya

Selain amalan yang disebutkan di atas hendaknya memperbanyak pula amalan-amalan yang lain. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi tentang keagungan dan kecintaan Allah terhadap amal shaleh yang dikerjakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Diantara amal shaleh yang perlu mendapat perhatian seperti menjaga shalat berjama’ah di awal waktu, membaca dan menelaah al-Qur’an, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, berda’wah, menjaga shalat sunnah, memelihara akhlaq dan adab Islami, dan sebagainya. Wallahul muwaffiq ilal ‘ilmin nafi’ wal ‘amalis Shalih

Ust. Syamsudin Al Munawiy, Lc.,MA.

sumber

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *