Pages Menu
Categories Menu

Posted by on Sep 8, 2015 in Artikel | 0 comments

Faktor Penyebab Futur (01): Tidak Ikhlas & Tidak Menjaga Keikhlasan

Faktor Penyebab Futur (01): Tidak Ikhlas & Tidak Menjaga Keikhlasan

“Sesungguhnya setiap amal ada saat semangatnya dan setiap saat semangat ada saat FUTUR-nya, . . .”. (Terj. HR. Ahmad dan dinilai Shahih Oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ As-Shaghir). Hadits riwayat Imam Ahmad di atas menunjukkan bahwa setiap amalan ada saat semangat dan ada pula saat futurnya. Futur artinya lemah setelah bersemangat, terputus setelah kontinyu, dan malas setelah rajin dan bersungguh-sungguh. Ia merupakan penyakit yang kadang menimpa para ahli ibadah, juru da’wah, dan penuntut ilmu. Jika terserang penyakit ini seseorang menjadi lemah, lamban, dan malas setelah sebelumnya semangat, rajin, dan bersungguh-sungguh. Bahkan pada tingkat yang paling parah seseorang terputus sama sekali dari suatu amal ibadah dan da’wah, wallahul musta’an. Kefuturan biasanya terjadi secara perlahan. Berawal dari gejala dan sebab yang kadang tidak disadari oleh orang yang dijangkitinya. Sehingga seseorang tidak serta merta terputus secara total dari suatu amal setelah sebelumnya ia rajin, bersemangat, dan rutin melakukan suatu amalan. Tetapi berawal dari fenomena malas, bosan dan semacamnya yang tidak disadari dan tidak diatasi. Oleh karena itu mengenali fenomena, gejala, dan...

Read More

Posted by on Sep 7, 2015 in Artikel | 0 comments

Mutiara Hadits No. 60 Dari Kitabul Adab Shahih Al Bukhari

Mutiara Hadits No. 60 Dari Kitabul Adab Shahih Al Bukhari

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ قَالَ وَعَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ السَّامُ عَلَيْكُمْ وَلَعَنَكُمْ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ أَوْ الْفُحْشَ قَالَتْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ (60/6030) Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Kebinasaan atasmu.” Maka Aisyah berkata; “Semoga atas kalian juga, dan semoga laknat dan murka Allah juga menimpa kalian.” Beliau bersabda: “Tenanglah wahai Aisyah, berlemah lembutlah dan janganlah kamu bersikap kasar dan janganlah kamu berkata keji.” Aisyah berkata; “Apakah anda tidak mendengar apa yang mereka katakan?” Beliau bersabda: “Tidakkah kamu mendengar apa yang saya ucapkan, saya telah membalasnya, adapun doaku akan dikabulkan sementara doa mereka tidak akan diijabahi.” Kesimpulan dan Pelajaran: 1. Lafal hadits ini sangat mirip dengan hadits no 54 yang sudah dibahas sebelumnya kecuali sedikit tambahan di bagian akhir haditsnya...

Read More

Posted by on Sep 7, 2015 in Artikel | 0 comments

Menceritakan Adanya Nikmat: Antara Maslahat dan Mafsadat

Menceritakan Adanya Nikmat: Antara Maslahat dan Mafsadat

Sahabat… Seringkali terbesit dalam hati, rasanya suatu nikmat dan karunia tak kan sempurna bila tanpa mengumumkan dan menyebarkannya pada sahabat-sahabat dan orang-orang disekitar kita. Bahkan tak jarang seseorang merasa; nikmat dan karunia tersebut tak akan indah bila tanpa menebarkannya dan mempostingnya di wall-wall FB atau Twitterrnya. Hal ini tentunya merupakan tabiat dan fitrah manusia, bahkan tuntutan syar’i dan salah satu bentuk rasa syukur yang dianjurkan, selama tujuannya adalah sebatas ungkapan syukur dan agar sahabat dan orang lain bahagia dengan hadirnya karunia-Nya dalam diri kita. Allah ta’ala telah berfirman: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ Artinya: “Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”. (QS. Adh-Dhuha: 11). Walaupun nikmat dalam ayat ini ditafsirkan oleh Imam Mujahid dan ahli tafsir salaf sebagai Al-Quran dan Nubuwwah/Kenabian dan ditujukan kepada Nabi kita, namun makna kandungan ayat ini umum untuk semua nikmat dan karunia yang dianugrahkan oleh Allah ta’ala, dan hukumnya ditujukan juga untuk seluruh umat manusia. (lihat: tafsir Ats-tsa’labi: 10/231 dan tafsur Ar-Razi: 31/201). Sebab itu para ulama termasuk diantaranya Abdul-Qahir Al-Jurjani menyatakan bahwa menceritakan adanya nikmat...

Read More

Posted by on Sep 7, 2015 in Artikel | 0 comments

Faktor-faktor Penyebab Futur

Faktor-faktor Penyebab Futur

Pada tulisan sebelumnya telah disinggung bahawa futur atau penurunan semangat atau malas beribadah setelah sebelumnya sungguh-sungguh dan rajin merupakan penyakit yang biasa menimpa para ahli ibadah, juru da’wah, dan penuntut ilmu. Dimana jika terserang penyakit ini seseorang menjadi lemah, lamban, dan malas setelah sebelumnya semangat, rajin, dan bersungguh-sungguh. Bahkan pada tingkat yang paling parah seseorang terputus sama sekali dari suatu amal ibadah dan da’wah, wallahul musta’an. Pada tulisan sebelumnya juga telah disebutkan beberapa gejala seseorang terjangkiti peyakit futur. Pada tulisan ini insya Allah akan disebutkan beberapa faktor yang menjadi sebab seseorang dilanda penyakit futur, yaitu; 1. Tidak ikhlas dan tidak menjaga keikhlasan, 2. Tidak menguasai ilmu syar’i, 3. Hati terpikat pada dunia dan lupa pada akhirat, 4. Ujian; istri dan anak anak, 5. Hidup di lingkungan yang rusak, 6. Bergaul dengan orang-orang yang tidak punya iradah dan himmah (keinginan dan obsesi), 7. Maksiat, kemunkaran, dan makanan haram, 8. Tujuan yang tidak jelas, 9. Tidak yakin pada tujuan (cita-cita) yang telah dicanangkan, 10. Tidak realistis, 11. Onak dan duri (Cobaan...

Read More

Posted by on Sep 3, 2015 in Artikel | 0 comments

Keutamaan 10 hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Keutamaan 10 hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Sebuah karunia Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang sangat besar, disediakan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Dengan hikmah-Nya Allah melebihkan zaman atau waktu tertentu untuk beramal shalih. Beberapa amalan di dalamnya dilipatkan. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah yang keutamaannya dinyatakan dalam dalil-dalil dari al Qur’an dan Sunnah: 1. Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa: وَالْفَجْر  وَلَيَالٍ عَشْر الفجر “Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr[89]:1-2) Kebanyakan ahli tafsir (diantaranya Ibnu Abbas, Abdullah bin az Zubair dan Mujahid) menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sumpah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/535 dan Zaadul Maad 1/56). Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:   والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف. (Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari (pertama) pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubair, Mujahid dan beberapa ulama lain dari kalangan salaf...

Read More

Posted by on Aug 27, 2015 in Artikel | 0 comments

Ketika Motivasi Amal Hanya Dunia

Ketika Motivasi Amal Hanya Dunia

Yahya bin Yahya an Naisaburi bercerita, “Suatu hari, seorang lelaki mendatangi Sufyan bin Uyainah dan berkata,”Wahai, Abu Muhammad (yakni Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang kelakuan istriku. Sungguh, aku adalah lelaki yang paling hina dan rendah di matanya”. Maka Sufyan menggeleng-geleng keheranan, lalu berkata, “Mungkin, hal itu terjadi, karena engkau menikahnya demi meraih kewibawaan?”. Lelaki itu menjawab, “Ya, memang benar, wahai Abu Muhammad”. Sufyan memberikan nasihat, “Barang siapa berbuat karena ingin mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barang siapa berbuat lantaran semata karena harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa berbuat karena dorongan agamanya, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya Agamanya”. Kemudian Sufyan menyebutkan kisahnya, “Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung, Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan. Sedangkan Imran, ia menikah karena ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya....

Read More